BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Acquired Immune Deficiency syndrome
(AIDS)
merupakan sekumpulan gejala dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem
kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV , atau infeksi virus lain yang
mirip yang menyerang spesies lainnya ( SIV, FIV, dan lain-lain).
Kami
mengangkat masalah AIDS dalam Makalah ini kami ingin mengetahui lebih jauh
tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah AIDS tersebut. Seperti
yang kita ketahui bersama, AIDS adalah suatu penyakit yang belum ada obatnya
dan belum ada vaksin yang bisa mencegah serangan virus HIV, sehingga penyakit
ini merupakan salah satu penyakit yang sangat berbahaya bagi kehidupan manusia
baik sekarang maupun waktu yang datang.
Selain itu
AIDS juga dapat menimbulkan penderitaan, baik dari segi fisik maupun dari segi
mental. Mungkin kita sering mendapat informasi melalui media cetak, elektronik,
ataupun seminar-seminar, tentang betapa menderitanya seseorang yang mengidap
penyakit AIDS. Dari segi fisik, penderitaan itu mungkin, tidak terlihat secara
langsung karena gejalanya baru dapat kita lihat setelah beberapa bulan. Tapi
dari segi mental, orang yang mengetahui dirinya mengidap penyakit AIDS akan
merasakan penderitaan batin yang berkepanjangan. Semua itu menunjukkan bahwa
masalah AIDS adalah suatu masalah besar dari kehidupan kita semua.
Dengan
pertimbangan-pertimbangan dan alasan itulah kami sebagai pelajar, sebagai
bagian dari anggota masyarakat dan sebagai generasi penerus bangsa, merasa
perlu memperhatikan hal tersebut. Oleh karena itu kami membahasnya dalam
makalah ini.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan AIDS ?
2. Bagaimana
Cara penularannya ?
3. siapa
saja yang kemungkinan besar bisa
tertular/terkena AIDS ?
4. Bagaimana
cara diagnosis dan penatalaksanaan pada penyakit AIDS ?
1.3 Tujuan
1.3.1
Tujuan Umum
Menjelaskan apa
itu yang dimaksud dengan AIDS dan bagaimana cara penularannya.
1.3.2
Tujuan Khusus
1. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan AIDS dan cara penularannya
2. Untuk
mengetahui cara diagnosis dan penatalaksanaan pada penyakit AIDS
3. Untuk
mengetahui siapa saja yang kemungkinan besar
bisa tertular AIDS
4. Untuk
mengetahui bagaimana keadaan AIDS di Indonesia
1.4 Manfaat
1.4.1
Manfaat Teoritis
Untuk memberikan informasi kepada
para pembaca, terutama bagi sesama pelajar dan generasi muda tentang AIDS,
sehingga dengan demikian kita semua berusaha untuk menghindarkan diri dari
segala sesuatu yang bisa saja menyebabkan penyakit AIDS.
1.4.2
Manfaat Praktis
1. Menamabah
pengetahuan mahasiswa tentang AIDS
2. Menambah
pengetahuan mahasiswa tentang ciri-ciri penyakit AIDS
3. Menambah
pengetahuan mahasiswa tentang cara merawat pasien AIDS
4. Menambah
pengetahuan mahasiswa tentang cara pencegahan penyakit AIDS
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
AIDS
merupakan penyakit yang paling ditakuti
pada saat ini . HIV, merupakan virus yang menyebabkan penyakit ini, merusak
sistem pertahanan tubub manusia (Sistem imun) , sehingga orang-orang
yangmenderita penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari serangan
penyakit semakin berkurang. Seseorang yang positif mengidap HIV, belum tentu
mengidap AIDS. Banyak kasus dimana seseorang yang mengidap HIV , tetapi tidak
menjadi sakit dalam jangka waktu yang lama. Namun HIV yang ada pada tubuh
manusia akan terus merusak sistem imun. Akibatnya , virus, jamur dan bakteri
yang biasanya tidak berbahaya menjadi sangat berbahaya karena rusaknya sistem
imun tubuh.
Karena ganasnya
penyakit ini , maka berbagai usaha dilakukan untuk mengembangkan obat-obatan
yang dapat mengatasinya. Pengobatan yang berkembang saat ini , targetnya adalah
enzim-enzim yang dihasilkan oleh HIV dan diperlukan oleh virus tersebut untuk
berkembang.
HIV merupakan
suatu virus yang material genetiknya adalah RNA yang dbungkus oleh suatu
matriks yang sebagian besar terdiri atas protein. Untuk tumbuh materi genetik
ini perlu diubah menjadi DNA , diintegrasikan kedalam DNA inang , dan
selanjutnya mengalami proses yang akhirnya akan menghasilkan protein. Protein-protein yang dihasilkan akan
membentuk virus-virus baru.
Obat –obatan
yang telah ditemukan pada saat ini menghambat pengubahan RNA menjadi DNA dan
menghambat pembentukan protein-protein aktif. Enzim yang membantu pengubahan
RNA menjadi DNA disebut reserse
transcriptase,sedangkan yang membantu pembetukan protein aktif disebut protease.
Untuk dapat
membentuk protein yang aktif, informasi genetik yang tersimpan pada RNA virus
harus diubat terlebih dahulu menjadi DNA.
Reserse transcriptase membantu proses pengubahan RNA menjadi DNA. Jika
proses pembentukan DNA dihambat, maka proses pembentukan protein juga menjadi
terhambat. Oleh karena itu, pembentukan virus-virus yang baru menjadi berjalan
lebih lambat. Jadi , penggunaan obat-obatan penghambat enzim reserse transcriptase tidak secara
tuntas menghancurkan virus yang terdapat didalam tubuh .penggunaan obat-obatan
jenis ini hanya menghambat proses pembentukan virus baru , dan proses
pengahambatan ini pun tidak menghentikn proses pembentukan virus baru secara
total.
Obat-obatan lain
yang sekarang ini juga banyak berkembang adalah penggunaan penghambat enzim
protease. Dari DNA yang berasal dari RNA virus, akan dibentuk protein-protein
yang nantinya akan berperan dalam proses pembentukan partikel virus yang baru.
Pada mulanya ,protein yang dibentuk berada dalam bentuk yang tidak aktif .
untuk mengaktifkannya , makan protein-protein yang dihasilkan harus dipotong
pada tempat-tempat tertentu. Disinilah peranan protease .m protease akan
memotong protein pada tempat tertentu dari suatu protein yang terbentuk dari
DNA , dan akhirnya akan menghasilkan protein yang nantinya akan dapat membentuk
protein penyusun matriks virus ataupun protein fungsional yang berperan sebagai
enzim.
Menurut Flexner
(1998), pada saat ini telah dikenal 4 inhibator protease yang digunakan pada
terapi pasien yang terinfeksi oleh virus HIV , yaitu indinavir, nelfinavir, ritonavir dan saquinavir. Satu inhibator
lainnya masih dalam proses penenlitian yaitu amprenavir. Inhibator protease yang telah umum digunakan, memiliki
efek samping yang perlu dipertimbangkan. Semua inhibator protease yang telah
disetujui memiliki efek samping gastrointesnital.
Hiperlipidemia, intoleransi glukosa
dan distribusi lemak abnormal dapat juga terjadi.
Uji klinis
menunjukkan bahwa terapi tunggal dengan menggunakan inhibator protease saja
dapat menurunkan jumlah RNA HIV secara
signifikan dan meningkatkan jumlah sel CD4 (indikator bekerjanya sistem imun)
selama minggu pertama perlakuan. Namun demikian , kemampuan senyawa ini untuk
menekan replikasi virus sering kali terbatas , sehingga menyebabkan terjadinya
suatu seleksi yang menghasilkan HIV yang tahan terhadap obat.karena itu ,
pengobatan dilakukan dengan menggunakan suatu terapi kombinasi bersama-sama
dengan inhibator reverse transkriptase menunjukkan respon antivirial yang lebih
signifikan yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama (patrick
& potts, 1998)
Dari uraian
diatas kita, dapat mengetahuai bahwa sampai saat ini belum ada obat yang
benar-benar dapat menyembuhkan penyakit HIV/AIDS. Obat-obatan yang telah
ditemukan hanya menghambat proses pertumbuhan virus , sehingga jumlah virus
dapat ditekan.
Oleh karena itu
tantangan bagi para peneliti diseluruh dunia adalah untuk mencari obat yang
dapat menghancurkan virus yang terdapat dalam tubuh , bukan hanya menghambat
pertumbuhan virus. Indonesia yang kaya kan keanekaragaman hayati , tentunya
memiliki potensi yang sangat besar untuk ditemukannya obat yang berasal dari
alam. Penelusuran senyawa yang berkhasiat tentunya memrlukan penelitian yang
tidak sederhana.
PATHWAY
I.
Menyerang
T Limfosit, sel saraf, makrofag, monosit, limfosit B
|
Lesi
mulut
|
Ensepalopati
akut
|
Diare
|
Penyakit
anorektal
|
Gatal,
sepsis, nyeri
|
Infeksi
|
Virus HIV
|
Immunocompromise
|
Merusak seluler
|
Flora normal patogen
|
Organ target
|
Manifestasi
oral
|
Respiratori
|
Invasi kuman patogen
|
Manifestasi
saraf
|
Gastrointestinal
|
Dermatologi
|
Sensori
|
HIV- positif ?
|
Reaksi
psikologis
|
Gangguan
penglihatan dan pendengaran
|
Kompleks
demensia
|
Disfungsi
biliari
|
Hepatitis
|
![]() ![]() |
|||||||||||||
![]() |
![]() |
||||||||||||
BAB III
PEMBAHASAN
2.1
Definisi
AIDS
AIDS adalah
singkatan dari Acquired Immune Deficiency
syndrome yaitu menurunnya daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit
karena adanya infeksi virus HIV (Human
Immunodeficiency Virus). Seseorang yang terkena infeksi HIV dengan mudah
dapat terserang berbagai penyakit lain karena rendahnya imunitas tubuh , dan
dapat mengakibatkan kematian.
AIDS
dapat didefinisikan sebagai sindrome atau kumpulan gejala penyakit dengan
karakteristik defisiensi imun yang berat , dan merupakan manifestasi stadium
akhir infeksi HIV. Antibodi HIV positif tidak identik dengan AIDS , karena AIDS
harus menunjukkan adanya satu atau lebih gejala penyakit akibat defisiensi
sistem imun seluler.
ANATOMI
VIRUS HIV
Orang yang
telah mengidap virus AIDS akan menjadi pembawa dan penular AIDS selama
hidupnya, walaupun tidak merasa sakit dan tampak sehat. AIDS juga dikatakan
penyakit yang berbahaya karena sampai saat ini belum ada obat atau vaksin yang
bisa mencegah virus AIDS. Selain itu orang terinfeksi virus AIDS akan merasakan
tekanan mental dan penderitaan batin karena sebagian besar orang di sekitarnya
akan mengucilkan atau menjauhinya. Dan penderitaan itu akan bertambah lagi
akibat tingginya biaya pengobatan. Bahaya AIDS yang lain adalah menurunnya
sistim kekebalan tubuh. Sehingga serangan penyakit yang biasanya tidak
berbahaya pun akan menyebabkan sakit atau bahkan meninggal.
2.2
Etiologi AIDS
Penyebab timbulnya penyakit AIDS belum dapat dijelaskan sepenuhnya. Seperti
yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa virus HIVtelah ada di dalam tubuh
sebelum munculnya penyakit AIDS ini. Namun kenyataan bahwa tidak semua orang
yang terinfeksi virus HIV ini terjangkit penyakit AIDS menunjukkan bahwa ada
faktor-faktor lain yang berperan di sini. Penggunaan alkohol dan obat bius,
kurang gizi, tingkat stress yang tinggi dan adanya penyakit lain terutama
penyakit yang ditularkan lewat alat kelamin merupakan faktor-faktor yang
mungkin berperan. Faktor yang lain adalah waktu. Penelitian terakhir
menunjukkan bahwa kesempatan untuk terkena AIDS meningkat, bukannya menurun
dikarenakan faktor waktu.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa HIV secara terus menerus
memperlemah sistem kekebalan tubuh dengan cara menyerang dan menghancurkan
kelompok-kelompok sel-sel darah putih tertentu yaitu sel T-helper.
Normalnya sel T-helper ini (juga disebut sel T4) memainkan suatu peranan
penting pada pencegahan infeksi. Ketika terjadi infeksi, sel-sel ini akan
berkembang dengan cepat, memberi tanda pada bagian sistem kekebalan tubuh yang
lain bahwa telah terjadi infeksi. Hasilnya, tubuh memproduksi antibodi yang
menyerang dan menghancurkan bakteri-bakteri dan virus-virus yang berbahaya.
Selain mengerahkan sistem kekebalan tubuh untuk memerangi infeksi, sel T-helper
juga memberi tanda bagi sekelompok sel-sel darah putih lainnya yang disebut sel
T-suppressor atau T8, ketika tiba saatnya bagi sistem kekebalan tubuh
untuk menghentikan serangannya.
Biasanya kita memiliki lebih banyak sel-sel T-helper dalam darah daripada
sel-sel T-suppressor, dan ketika sistem kekebalan sedang bekerja dengan
baik, perbandingannya kira-kira dua banding satu. Jika orang menderita penyakit
AIDS, perbandingan ini kebalikannya, yaitu sel-sel T-suppressor melebihi
jumlah sel-sel T-helper. Akibatnya, penderita AIDS tidak hanya mempunyai
lebih sedikit sel-sel penolong yaitu sel T-helper untuk mencegah
infeksi, tetapi juga terdapat sel-sel penyerang yang menyerbu sel-sel penolong
yang sedang bekerja.
Selain mengetahui bahwa virus HIV membunuh sel-sel T-helper, kita
juga perlu tahu bahwa tidak seperti virus-virus yang lain, virus HIV ini
mengubah struktur sel yang diserangnya. Virus ini menyerang dengan cara
menggabungkan kode genetiknya dengan bahan genetik sel yang menularinya.
Hasilnya, sel yang ditulari berubah menjadi pabrik pengasil virus HIV yang
dilepaskan ke dalam aliran darah dan dapat menulari sel-sel T-helper
yang lain. Proses ini akan terjadi berulang-ulang.
Virus yang bekerja seperti ini disebut retrovirus. Yang membuat
virus ini lebih sulit ditangani daripada virus lain adalah karena virus ini
menjadi bagian dari struktur genetik sel yang ditulari, dan tidak ada cara
untuk melepaskan diri dari virus ini. Ini berarti bahwa orang yang terinfeksi
virus ini mungkin terinfeksi seumur hidupnya. Selain itu dapat berarti bahwa
orang yang mengidap HIV dapat menulari sepanjang hidup.
Cara virus ini merusak fungsi sistem kekebalan tubuh belum dapat
diungkapkan sepenuhnya. Teori yang terbaru namun belum dapat dibuktikan
kebenarannya menyatakan bahwa rusaknya sistem kekebalan yang terjadi pada
pengidap AIDS mungkin dikarenakan tubuh menganggap sel-sel T-helpernya
yang terinfeksi sebagai “musuh”. Jika demikian kasusnya, lalu apa yang akan
dilakukan oleh mekanisme pertahanan tubuh yaitu mulai memproduksi antibodi
untuk mencoba menyerang sel-sel T yang telah terinfeksi. Akan tetapi antibodi
juga akan diproduksi untuk menyerang sel T-helper yang tidak terinfeksi,
mungkin juga merusak atau membuat sel-sel ini tidak dapat berfungsi sebagaimana
mestinya. Jika demikian, HIV akan menyerang sistem kekebalan tubuh tidak hanya
dengan membunuh sel-T tetapi dengan mengelabuhi tubuh dengan membiarkan tubuh
sendiri yang menyerang mekanisme pertahanannya.
HIV tidak hanya menyerang sistem kekebalan tubuh. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa virus ini juga merusask otak dan sistem saraf pusat. Otopsi
yang dilakukan pada otak pengidap AIDS yang telah meniggal mengungkapkan bahwa
virus ini juga menyebabkan hilangnya banyak sekali jaringan otak. Pada waktu
yang bersamaan, peneliti lain telah berusaha untuk mengisolasi HIV dengan
cairan cerebrospinal dari orang yang tidak menunjukkan gejala-gejala
terjangkit AIDS. Penemuan ini benar-benar membuat risau. Sementara para
peneliti masih berpikir bahwa HIV hanya menyerang sistem kekebalan, semua orang
yang terinfeksi virus ini tetapi tidak menunjukkan gejala terjangkit AIDS atau
penyakit yang berhubungan dengan HIV dapat dianggap bisa terbebas dari
kerusakan jaringan otak. Saat ini hal yang cukup mengerikan adalah bahwa mereka
yang telah terinfeksi virus HIV pada akhirnya mungkin menderita kerusakan otak
dan sistem saraf pusat.
2.3
Patofisiologi
AIDS
AIDS merupakan bentuk terparah atas akibat
infeksi HIV. HIV adalah retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ vital
sistem kekebalan manusia, seperti sel T CD4+ (sejenis sel T), makrofaga, dan
sel dendritik. HIV merusak sel T CD4+ secara langsung dan tidak langsung,
padahal sel T CD4+ dibutuhkan agar sistem kekebalan tubuh dapat berfungsi baik.
Bila HIV telah membunuh sel T CD4+ hingga jumlahnya menyusut hingga kurang dari
200 per mikroliter (µL) darah, maka kekebalan di tingkat sel akan hilang, dan
akibatnya ialah kondisi ‘’’’’’’’’’yang disebut AIDS. Infeksi akut HIV akan
berlanjut menjadi infeksi laten klinis, kemudian timbul gejala infeksi HIV
awal, dan akhirnya AIDS; yang diidentifikasi
dengan memeriksa jumlah sel T CD4+ di dalam darah serta adanya infeksi
tertentu.
Tanpa
terapi antiretrovirus, rata-rata lamanya perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS
ialah sembilan sampai sepuluh tahun, dan rata-rata waktu hidup setelah
mengalami AIDS hanya sekitar 9,2 bulan. Namun demikian, laju perkembangan
penyakit ini pada setiap orang sangat bervariasi, yaitu dari dua minggu sampai
20 tahun. Banyak faktor yang mempengaruhinya, diantaranya ialah kekuatan tubuh
untuk bertahan melawan HIV (seperti fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang
terinfeksi. Orang tua umumnya memiliki kekebalan yang lebih lemah daripada
orang yang lebih muda, sehingga lebih berisiko mengalami perkembangan penyakit
yang pesat. Akses yang kurang terhadap perawatan kesehatan dan adanya infeksi
lainnya seperti tuberkulosis, juga dapat mempercepat perkembangan penyakit ini.
Warisan genetik orang yang terinfeksi juga memainkan peran penting. Sejumlah
orang kebal secara alami terhadap beberapa varian HIV. HIV memiliki beberapa
variasi genetik dan berbagai bentuk yang berbeda, yang akan menyebabkan laju
perkembangan penyakit klinis yang berbeda-beda pula. Terapi antiretrovirus yang
sangat aktif akan dapat memperpanjang rata-rata waktu berkembangannya AIDS,
serta rata-rata waktu kemampuan penderita bertahan hidup.
2.4
Cara Penularan AIDS
HIV terdapat
dalam darah dan cairan tubuh seorang yang telah tertular , walaupun orang
tersebut belum menunjukkan gejala atau keluhan penyakit. HIV hanya dapat
ditularkan bila terjadi kontak langsung dengan cairan tubuh atau darah.
Sebelumnya
virus AIDS tidak mudah menular virus influensa. Kita tidak usak terlalu
mengucilkan atau menjauhi penderita AIDS,
karena AIDS tidak akan menular dengan cara – cara seperti di bawah ini :
a.
Hidup serumah dengan penderita AIDS ( asal tidak
mengadakan hubungan seksual ).
b.
Bersenggolan atau berjabat tangan dengan penderita.
c.
Bersentuhan dengan pakaian dan lain-lain barang bekas
penderita AIDS.
d.
Makan dan minum.
e.
Gigitan nyamuk dan serangga lain.
f.
Sama-sama berenang di kolam renang
Tiga
Cara Penularan HIV :
1. Melalui
hubungan seksual, baik secara verginal,oral maupun anal dengan seseorang
pengidap HIV. Ini adalah cara yang paling umu terjadi, meliputi 80-90% dari
total kasus sedunia. Lebih mudah terjadi penularan bila terdapat lesi penyakit
kelamin dengan ulkus atau peradangan jaringan seperti herpes genitalis,
sifilis, gonorea, klamidia, dan trikomoniasi.
2. Kontak
langsung dengan darah / produk darah / jarum suntik.
a. Transfusi
darah / produk darah yang tercemar HIV.
b. Pemakaian
jarum suntik tidak steril.
c. Penularan
lewat kecelakaan tertusuk jarum pada petugas kesehatan.
3. Secara
vertikal dari ibu hamil pengidap HIV kepada bayinya , baik selama hamil , saat
melahirkan maupun setelah melahirkan.
2.5
Gejala
AIDS
Sebagian
orang yang terinfeksi HIV tidak menyadarinya karena tidak ada gejala yang
tampak segera setelah terjadi infeksi awal. Beberapa orang mengalami gangguan
kelenjar yang menimbulkan efek seperti demam (disertai panas tinggi,
gatal-gatal, nyeri sendi, dan pembengkakan limpa), yang dapat terjadi pada saat
seroconversion. Seroconversion adalah pembentukkan antibodi akibat HIV yang
biasanya terjadi antara enam minggu dan tiga bulan setelah terjadinya infeksi.
Sejak
pertama seseorang terinfeksi virus HIV, maka virus tersebut akan hidup dalam
tubuhnya, tetapi orang tersebut tidak menunjukkan gejala penyakit namun
terlihat betapa sehat, aktif, produktif seperti biasa. Karena gejala-gejala
AIDS tampak setelah + 3 bulan. Adapun gejala-gejala AIDS itu sendiri
adalah :
1.
Berat badan turun dengan drastis.
2.
Demam yang berkepanjangan(lebih dari 38 0C)
3.
Pembesaran kelenjar (dileher), diketiak, dan lipatan
paha)yang timbul tanpa sebab.
4.
Mencret atau diare yang berkepanjangan.
5.
Timbulnya bercak-bercak merah kebiruan pada kulit
(Kanker kulit atau KAPOSI SARKOM).
6.
Sesak nafas dan batuk yang berkepanjangan.
7.
Sariawan yang tidak sembuh-sembuh.
Semua itu adalah gejala-gejala yang dapat kita lihat pada penderita AIDS,
yang lama-kelamaan akan berakhir dengan kematian.
2.6
Orang
yang Kemungkinan Besar Bisa Tertular
AIDS ?
1.
Mereka yang sering melakukan hubungan seksual diluar
nikah, seperti wanita dan pria tuna susila dan pelanggannya.
2.
Mereka yang mempunyai bayak pasangan seksual misalnya
: Homo seks (melakukan hubungan dengan sesama laki-laki), Biseks (melakukan
hubungan seksual dengan sesama wanita), Waria dan mucikari.
3.
Penerima transfusi darah
4.
Bayi yang dilahirkan dari Ibu yang mengidap virus
AIDS.
5.
Pecandu narkotika suntikan.
6.
Pasangan dari pengidap AIDS.
2.7
Cara Pencegahan AIDS
a.
Hindarkan hubungan seksual diluar nikah. Usahakan
hanya berhubungan dengan satu orang pasangan seksual, tidak berhubungan dengan
orang lain.
b.
Pergunakan kondom bagi resiko tinggi apabila melakukan
hubungan seksual.
c.
Ibu yang darahnya telah diperiksa dan ternyata
mengandung virus, hendaknya jangan hamil. Karena akan memindahkan virus AIDS
pada janinnya.
d.
Kelompok resiko tinggi di anjurkan untuk menjadi donor
darah.
e.
Penggunaan jarum suntik dan alat lainnya ( akupuntur,
tato, tindik ) harus dijamin sterilisasinya.
Adapun usaha-usaha yang dapat dilakukan pemerintah dalam usaha untuk
mencegah penularan AIDS yaitu, misalnya : memberikan penyuluhan-penyuluhan atau
informasi kepada seluruh masyarakat tentang segala sesuatau yang berkaitan
dengan AIDS, yaitu melalui seminar-seminar terbuka, melalui penyebaran brosur
atau poster-poster yang berhubungan dengan AIDS, ataupun melalui iklan
diberbagai media massa baik media cetak maupun media elektronik.penyuluhan atau
informasi tersebut dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan, kepada
semua lapisan masyarakat, agar seluarh masyarakat dapat mengetahui bahaya AIDS,
sehingga berusaha menghindarkan diri dari segala sesuatu yang bisa menimbulkan
virus AIDS.
2.8
USAHA-USAHA YANG DILAKUKAN APABILA TERINFEKSI VIRUS
AIDS
Usaha-usaha yang dilakukan terinfeksi virus AIDS disebut juga penerapan
strategi pengobatan baru. Dalam pengobatan HIV / AIDS sangat penting mengetahui
dinamika HIV, serta perjalanan penyakit ( patogenesis ) sehingga dapat
melakukan tindakan dan pengobatan tepat waktu.
Beberapa harapan dan kabar baik dapat dicatat dari pertemuan-pertemuan “Van
Couver” di Kanada saat ini cukup banyak obat anti HIV yang efektif untuk
pengobatan kombinasi. Beberapa obat penghambat protease dan obat anti HIV
sedang dalam tahap akhir untuk mendapat izin. Selain itu muncul pula
pemeriksaan “Viral loard” yang prosesnya lebih mudah dalam mendeteksi RNA dari
HIV dalam darah. Dan semua usaha diatas seharusnya di tunjang oleh motivasi
dari penderita AIDS itu sendiri. Misalnya bagi mereka yang termasuk kelompok
resiko tinggi terkena AIDS selalu memeriksakan darahnya secara teratur, paling
sedikit 3-6 bulan sekali, demi keselamatan pasangan seksualnya. Dan yang tidak
kalah penting adalah mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Yaitu dengan
melaksanakan ibadah-ibadah yang diperintahkan dan berusaha untuk menjauhi
segala yang dilarangNya, agar penderitaan yang dirasakan tidak terlalu berat.
Dan bagi masyarakat hendaknya jangan menjauhi mengucilkan mereka yang
terinfeksi AIDS, tetapi seharusnya memberi dorongan atau semangat hidup,
misalnya melalui nasehat-nasehat yang bisamenumbuhkan rasa percaya diri,
sehingga mereka yang telah mengidap virus AIDS tidak putus asa dalam menjalani
hidupnya.
Dengan adanya usaha-usaha diatas, niscaya masalah AIDS dapat diatasi,
paling tidak dapat dicegah sedini mungkin, apalagi jika ada partisipasi dari
semua pihak.
2.9
KONSEP KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Aktifitas
/istirahat :
·
Mudah lelah, berkurangnya toleransi terhadap
aktifitas, kelelahan yang progresif
·
Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon
fisiologi terhadap aktifitas
2.
Sirkulasi
·
Proses penyembuhan luka yang lambat, perdarahan lama
bila cedera
·
takikardia, perubahan tekanan darah postural, volume
nadi periver menurun, pengisian kapiler memanjang
3.
Integritas ego
·
Faktor stress yang berhubungan dgn kehilangan:
dukungan keluarga, hubungan dgn org lain, pengahsilan dan gaya hidup tertentu
·
Menguatirkan penampilan: alopesia, lesi , cacat,
menurunnya berat badan
·
Merasa tdk berdaya, putus asa, rsa bersalah,
kehilangan control diri, dan depresi
·
Mengingkari, cemas, depresi, takut, menarik diri,
marah, menangis, kontak mata kurang
4.
Eliminasi.
·
Diare, nyeri pinggul, rasa terbakar saat berkemih
·
Faeces encer disertai mucus atau darah
·
Perubahan dlm jumlah warna urin.
5.
Makanan/cairan :
·
Tidak ada nafsu makan, mual, muntah
·
Penurunan BB yang cepat
·
Bising usus yang hiperaktif
·
Turgor kulit jelek, lesi pada rongga mulut, adanya
selaput putih/perubahan warna mucosa mulut
·
Adanya gigi yang tanggal. Edema
6.
Hygiene
·
Memepeliahtkan penampilan yang tdk rapi.
7.
Neurosensorik
·
Pusing,sakit kepala.
·
Perubahan status mental, kerusakan mental, kerusakan
sensasi
·
Kelemahan otot, tremor, penurunan visus.
·
Bebal,kesemutan pada ekstrimitas.
·
Gayaberjalan ataksia.
8.
Nyeri/kenyamanan
·
Nyeri umum/local, sakit, rasaterbakar pada kaki.
·
Sakit kepala, nyeri dada pleuritis.
·
Pembengkakan pada sendi, nyeri kelenjar, nyeri tekan,
penurunan ROM, pincang.
9.
Pernapasan
·
Terjadi ISPA, napas pendek yang progresif, batuk
produktif/non,
sesak pada
dada, takipnou, bunyi napas tambahan, sputum kuning.
10.
Keamanan
·
Riwayat jatuh, terbakar, pingsan, lauka lambat proses
penyembuhan
·
Demam berulang
11.
Seksualitas
·
Riwayat perilaku seksual resiko tinggi, penurunan
libido, penggunaan kondom yang tdk konsisten, lesi pd genitalia, keputihan.
12.
Interaksi social
·
Isolasi, kesepian,, perubahan interaksi keluarga,
aktifitas yang tdk terorganisir
B. DIAGNOSA
KEPERAWATAN
1.
Resiko terjadinya infeksi terhadap depresi system imun, aktifitas yang tdk
terorganisir
2.
Defisit volume cairan tubuh berakibat diare berat,
status hipermetabolik.
3.
Nutrisi kurang dari kebutuhan berdasarkan hambatan
asupan makanan (muntah/mual), gangguan intestinal, hipermetabolik.
4.
Pola nafas tidak efektif terjadi penurunan ekspansi
paru, melemahnya otot pernafasan.
C. INTERVENSI
Dx 1: Resiko
terjadinya infeksi b/d depresi system imun, aktifitas
yang tdk terorganisir
Tujuan :
Klien akan
menunjukkan tanpa adanya tanda-tanda infeksi (tdk ada demam, sekresi tdk
purulent)
Tindakan :
1. Cuci tangan
sebelum dan sesudah kontak dgn pasin
R/. Resiko
cros infeksi dpt melalui prosedur yang dilakukan
2. Ciptakan
lingkungan yang bersih dan ventilasi yang cukup
R/.
Lingkungan yang kotor akan mneingkatkan pertumbuhan kuman pathogen
3. Informasikan
perlunya tindakan isolasi
R/.
Penurunan daya tahan tubuh memudahkan berkembangbiaknya kuman pathogen.
Tindakan isolasi sebagai upaya menjauhkan dari kontak langsung dgn kuman
pathogen
4. Kaji
tanda-tanda vital termasuk suhu badan.
R/.
Peningkatan suhu badan menunjukkan adanya infeksi sekunder.
a.
Kaji frekwensi nafas, bunyi nafas, batuk dan
karakterostik sputum.
b.
Observasi kulit/membrane mucosa kemungkinan adanya
lesi/perubahan warna
c.
bersihkan kuku setiap hari
R/ Luka
akibat garukan memudahkan timbul infeksi luka
5.
Perhatikan adanya tanda-tanda adanya inflamasi
R/ Panas
kemerahan pembengkakan merupakan tanda adanya infeksi
6.
Awasi penggunaan jarum suntik dan mata pisau secara
ketat dengan menggunakan wadah tersendiri.
R/ Tindakan
prosuder dapat menyebabkan perlukaan pada permukaan kulit.
Dx 2 : Defisit volume cairan tubuh b/d
diare berat, status hipermetabolik.
Tujuan : Klien akan mempertahankan tingkat
hidrasi yang adekuat
Tindakan :
1.
Pantau tanda-tanda vital termasuk CVP bila terpasang.
R/ denyut
nadi/HR meningkat, suhu tubuh menurun, TD menurun menunjukkan adanya dehidrasi.
2.
Catat peningkatan suhu dan lamanya, berikan kmpres
hangat, pertahankan pakaian tetap kering, kenyamanan suhu lingkungan.
R/ Suhu
badan meningkat menunjukkan adanya hipermetabolisme.
a.
Kaji turgor kulit, membrane mukosa dan rasa haus.
3.
Timbang BB setiap hari
R/.
penurunan BB menunjukkan pengurangan volume cairan tubuh.
4.
Catat pemasukan cairan mll oral sedikitnya 2500 ml/hr.
Mempertahankan
keseimbangan, mengurangi rasa haus dan melembabkan membrane mucosa.
- Berikan makanan yang mudah dicerna dan tdk merangsang
Peningkatan
peristaltic menyebabkan penyerapan cairan pd
dinding usus akan kurang.
Dx 3 : Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d hambatan asupan
makanan (muntah/mual), gangguan intestinal, hipermetabolik.
Tujuan:
klien akan menunjukkan peningkatan BB ideal.
Tindakan:
1. Kaji
kemampuan mengunyah, merasakan dan menelan.
Lesi pada
mulut, esophagus dpt menyebabkan disfagia
2. auskultasi
bising usus
Hipermetabolisme
saluran gastrointestinal akan menurunkan tingkat penyerapan usus.
3. timbang BB
setiap hari
BB sebagai
indicator kebutuhan nutrisi yang adekuat
4. hindari
adanya stimulus leingkungan yang berlebihan.
5. berikan
perawatan mulut, awasi tindakan pencegahan sekresi. Hindari obat kumur yang
mengandung alcohol.
Pengeringan
mucosa, lesi pd mulut dan bau mulut akan menurunkan nafsu makan.
6. rencanakan
makan bersama keluarga/org terdekat. Barikan makan sesuai keinginannya (bila
tdk ada kontraindidkasi)
7. sajikan
makanan yang hangat dan berikan dalam volume sedikit
8. dorong klien
untuk duduk saat makan.
Dx. 4. Pola
nafas tidak efektif b/d penurunan ekspansi paru, melemahnya otot pernafasan.
Tujuan:
klien akan mmempertahankan pola nafas yang efektif
Tindakan:
1. Auskultasi
bunyi nafas tambahan
bunyi nafas
tambahan menunjukkan adanya infeksi jalan nafas/peningkatan sekresi.
2. Catat
kemungkinan adanya sianosis, perubahan frekwensi nafas dan penggunaan otot
asesoris.
3. Berikan
posisi semi fowler
4. Lakukan
section bila terjadi retensi sekresi jalan nafas
EVALUASI
- Klien akan menunjukkan tanpa adanya tanda-tanda infeksi (tdk ada demam, sekresi tdk purulent)
- Klien akan mempertahankan tingkat hidrasi yang adekuat
- Klien akan menunjukkan peningkatan BB ideal.
- Klien akan mmempertahankan pola nafas yang efektif
2.10
SITUASI AIDS DI INDONESIA
Penyakit AIDS banyak ditemukan diluar negeri, tetapi karena hubungan dengan
bangsa menjadi semakin erat, maka penularannya harus tetap diwaspadai. Banyak
orang asing datang ke indonesia dan banyak pula orang indonesia pergi keluar
negeri untuk berbagai keperluan. Hal itu membuka kemungkinan terjadinya
penularan AIDS.
Jumlah HIV/AIDS di Indonesia sampai akhir 1996, terdapat 449 kasus dengan
341 HIV dan 108 AIDS, terdapat di 16 propensi di Indonesia. Wanita yang terkena
sebanyak 122 orang, WNI sebanyak 304 orang, Heteroseksual 276 orang, homoseks
dan biseks 84 orang, drag user 4 orang, perinatal 1 dan 80 tidak diketahui cara
tranmisinya. Menurut golongan umur, diindonesia ternyata yang paling banyak
terserang AIDS adalah usia 20-29 tahun yaitu 120 orang, bayi yang berumur
kurang dario 1 tahun dan 50 orang belum diketahui umurnya.
Dari 108 AIDS yang terbesar di 10 propinsi dan yang meninggal 66 orang, DKI
Jakarta terbanyak dengan 57 AIDS dan 35 sudah meninggal.
BAB III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
HIV adalah suatu virus yang hidup dalam tubuh manusia,
dan dan dapat menyebabkan timbulnya AIDS, yang merusak sistem kekebalan tubuh
manusia, sehingga tubuh mudah terserang penyakit dan lam kelamaan akan
meninggal, sudah menjadi sifat manusia yang selalu ingin merasakan kenikmanatan
tanpa mempedulikan akibatnya, misalnya : melakukan perzinahan, penggunaan
narkotika suntikan, dan sebagainya. Kits umat manusia sudah mengetahui bahwa
perbuatan-perbuatan tersebut sangat dilarang,baik menurut ajaran agama
masing-masing maupun aturan hukum yang berlaku. Tetapi dari sebagian kita tetap
saja melakukan hal-hal tersebut, misalnya : WTS, Homoseks,Biseks, Mucikari, dan
orang-orang yang sering berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual
diluar nikah. Dan berbahaya, dan sampai saat ini belum ditemukan obatnya.
Adapun gejala-gejala yang dapat kita lihat pada
penderita AIDS yaitu :
1.
Berat badan turun dengan drastis.
2.
Demam yang berkepanjangan(lebih dari 38 0C)
3.
Pembesaran kelenjar (dileher), diketiak, dan lipatan
paha)yang timbul tanpa sebab.
4.
Mencret atau diare yang berkepanjangan.
5.
Timbulnya bercak-bercak merah kebiruan pada kulit
(Kanker kulit atau KAPOSI SARKOM).
6.
Sesak nafas dan batuk yang berkepanjangan.
7.
Sariawan yang tidak sembuh-sembuh.
Oleh karena itu, kita harus menghindarkan diri dari
hal-hal yang dapat menyebabkan AIDS, yaitu melalui pencegahan misalnya :tidak
melakukan hubungan seksual secara bebas, menghidarkan penggunaan narkotika
suntikan, dan sebagainya.
AIDS merupakan cobaan atau bahkan hukuman daru
Tuhan,yang tidak pernah di duga oleh umat manusia.
Tapi bagaimanapun beratnya cobaan yang diberikan,
Tuhan YME. Akan selalu membukakan jalan bagi umatnya. Misalnya : sekarang
dicanada telah ada obat anti HIV yang efektif untuk pengobatan kombinasi.
Masalah AIDS ini tidak tentu akan menyebar luas, apabila dilakukan pencegahan
secara dini, apalagi jika ada partisipasi dari semua pihak.
3.2
Saran
Kita sebagai paramedis atau sebagai orang biasa jangan menjauhi atau
mengucilkan para penderita HIV/AIDS. Sebaiknya kita memberikan semangat dan
dorongan agar semangat menjalani hidup ,karena hidup itu indah.
DAFTAR PUSTAKA
Bruner,
Suddarth.. 2002. Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah. Volume 3. EGC :
Jakarta
Wartono, H.
JH. 1990. HIV/AIDS di Kenal untuk
dihindari. Jakarta: LEPIN.
Soemarsono.
1989. Gejala Klinis dan Pengobatan
Infeksi HIV/AIDS. DEPKES.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar